Home Sejarah Tidung Lirik Lagu Tidung Diskusi Wiro Sableng Bahasa Tidung Obral Plus Delapan Agustus Belajar buat website


Jumat, 31 Juli 2009

Kerajaan Tidung (bag. 2)

Dikemudian hari status yang setingkat ini berubah menjadi suatu kesatuan secara administratif berada di bawah Kesultanan Bulungan. Status ini tidak menjadi masalah bagi raja-raja yang dibawahi karena secara pisik tidak terdapat banyak perubahan terhadap kekuasaan di daerah masing-masing, selain itu pusat pemerintahan Belanda untuk wilayah Kesultanan Bulungan memang berada di wilayah Kerajaan Bulungan yaitu di Tanjung Selor. Dan satu hal yang patut di puji terhadap sikap raja-raja yang lain karena tidak terdapat maksud mengambil alih maupun merubah status tampuk kekuasaan dalam Kesatuan Kesultanan Bulungan, walaupun terdapat beberapa kebijaksanaan Sultan yang oleh para raja-raja lain dianggap lemah dan memberi keleluasaan terhadap pemerintahan penjajah. Hal ini dikarenakan antara Sultan dan para raja-raja terutama raja-raja dari suku Tidung terdapat hubungan darah kekeluargaan yang sangat dekat dan menyadari terhadap apa yang terjadi pada beberapa wilayah di luar Kesultanan Bulungan yang semula merupakan kerajaan besar kemudian terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil dengan wilayah dan penduduk dalam jumlah kecil pula. Hal ini tentulah ulah dari penjajah Belanda semata. Hanya beberapa orang dari keluarga terdekat Sultan menampakkan rekasi yang agak keras karena menuntut kesepakatan adat tentang ketentuan tradisi pengangkatan Sultan disamping protes terhadap sikap Belanda yang terlalu jauh mencampuri tradisi tersebut.

Telah diriwayatkan terlebih dahulu bahwa Sultan Alimuddin putera Wira Amir kawin dengan Aji Isa puteri Raja Tarakan Amiril Pengiran Maharajalila. Dari pekawinan ini melahirkan Maoelana dan Aji Galu. Maoelana kemudian mempunyai anak yaitu Aji Intan dengan gelar Pengiran Kesuma, Pengiran Tua, Pengiran Bijaksana dan Datoe Alam (Si Among). Setelah mempunyai cucu (dalam usia tua) Sultan Alimuddin kawin lagi dengan Pengian Intan dari Berau yang melahirkan Radja Muda Nik, Pengian Bijaksana dan Simad.

Setelah Sultan Alimuddin wafat maka putera sulungnya yang bernama Maoelana menggantikan sebagai Sultan, hal ini ditentang oleh Pengian Intan isteri kedua Sultan Alimuddin (Aji Isa sudah wafat lebih dulu). Pengian Intan menginginkan puteranya yang bernama Simad menjadi Sultan menggantikan ayahnya. Perselihan ini kemudian diatasi dengan kesepakatan membagi wilayah Kerajaan Bulungan (bukan wilayah Kesultanan Bulungan) yang meliputi wilayah Kecamatan Tanjung Palas sekarang dan kecamatan-kecamatan yang terletak di hulu Sungai Kayan (daerah pedalaman) menjadi tiga bagian.

  • Dari Seriang ke hulu (daerah pedalaman) dikuasai oleh putera Maoelana yang bernama Datoe Alam (Si Among) yang kemudian disebut sebagai wilayah Radja Seriang (Baratan).
  • Dari Tanjung Palas ke hilir sampai di Teras kemudian ke arah timur sampai daerah pesisir (Tanah Kuning, Mangkupadi dan lain-lain) dikuasai oleh Keturunan Pengian Intan yaitu Simad bersaudara yang kemudian disebut Radja Tanjung Palas.
  • Dari Teras ke hilir (bagian utara kecamatan Tanjung Palas sekarang) yang kemudian disebut wilayah Radja Salimbatu dikuasai oleh Aji Intan gelar Pengian Kesuma (Saudara kandung Datoe Alam) yang bersuamikan Raja Tarakan Amiril Pengiran Dipati (II)
Atas kesepakatan tersebut diatas, Raja-raja berikut keturunan masing-masing dari ketiga bagian wilayah tersebut akan bergilir menjadi Sultan. Yang kemudian naik tahta sebagai Sultan adalah dari Tanjung Palas yaitu Simad bergelar Sultan Amiril Kaharuddin yang juga disebut dengan nama Sultan Puan Tua.
Sultan Amiril Kaharuddin berputera tiga orang yaitu Datoe Kiding, Datoe Kieng dan Datoe Aji Kuning (Melundit).

Putera Sultan Amiril Kaharuddin yang bernama Datoe Kiding diangkat sebagai Sultan Muda bergelar Muhammad Jalaluddin khusus memerintah di wilayah Tanjung Palas. Sultan Muda Muhammad Jalaluddin tidak berusia panjang dan lebih dahulu wafat dari ayahnya.
Setelah Sultan Amiril Kaharuddin wafat, kemudian yang naik tahta sebagai Sultan adalah dari Seriang / Baratan yaitu anak dari Maoelana yang bernama Datoe Alam (Si Among) bergelar Sultan Muhammad Adil.
Sultan Muhammad Adil beranak Datoe Alam (muda), Datoe Alun, Datoe Bestari, Datoe Digadung, Tuan Haji Datoe, Pengian Intan dan Pengian Rindu.

Setelah Sultan Muhammad Adil wafat, kemudian yang naik tahta adalah dari Salimbatu yaitu Datoe Maharajalila begelar Sultan Muhammad Kaharuddin (II) putera dari (Aji Intan gelar Pengian Kesuma dengan suaminya Amiril Pengiran Dipati II Raja Tarakan). Sultan Muhammad Kaharuddin (II) beranak 4 putera dan 2 puteri yaitu Datoe Maoelana, Datoe Muluk, Datoe Bandar, Datoe Maharajalila (II), Pengian Kesuma (Si But) dan Tuan Haji Pengian.

Setelah Sultan Muhammad Kaharuddin (II) wafat, kemudian yang naik tahta adalah dari Tanjung Palas yaitu putera Almarhum Sultan Amiril Kaharuddin (Puan Tua) yang bernama Datoe Kieng bergelar Sultan Muhammad Azimuddin. Pengangkatan terhadap Datoe Kieng menjadi Sultan mendapat tantangan dari Datoe Alam (muda) putera Almarhum Sultan Muhammad Adil dari Seriang, karena Datoe Kieng dianggap kurang mampu dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi Sultan. Adapun Datoe Maoelana putera Almarhum Sultan Muhammad Kaharuddin (II) selaku penguasa di daerah Kerajaan Salimbatu tidak mendukung reaksi Datoe Alam tersebut. Hal ini dikarenakan Datoe Kieng adalah adik ipar Datoe Maoelana dan pada masa-masa selanjutnya karena faktor kelemahan dari Datoe Kieng (Sultan Azimuddin) dimanfaatkan oleh Datoe Maoelana untuk memperluas pengaruhnya. Sikap menentang dari Datoe Alam tersebut semakin keras dengan mengusulkan agar Sultan Azimuddin turun tahta dari jabatan Sultan agar diteruskan oleh giliran berikutnya yaitu Radja Seriang. Sikap Datoe Alam (muda) yang dimata Pemerintahan Belanda tidak simpatik memang sudah terlihat sebelum pengangkatan Datoe Kieng menjadi Sultan. Karena beberapa garis kebijaksanaan Pemerintah Belanda selaku penjajah banyak ditentang oleh Datoe Alam (muda). Akibat sikap Datoe Alam yang menentang tersebut, maka Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan Datoe Alam ke Jawa bersama para pendukungnya yaitu Ali Hanafiah dan Panembahan Radja Pendita (Raja Malinau). Setelah Datoe Alam diasingkan, maka kerabat keturunan Kerajaan Seriang lainnyapun bersikap apatis terhadap situasi pemerintahan, sebagian dari mereka tidak lagi bermukim di Seriang (Baratan) tapi pindah ke daerah Tana Tidung antara lain Datoe Alun di Pulau Sebatik, Datoe Bestari di Sesayap, Datoe Amir (putera Datoe Alam) di Pulau Mandul dan lain-lain. Wilayah Kerajaan Seriang kemudian langsung di bawah Perintah Sultan.
Datoe Kieng gelar Sultan Muhammad Azimuddin beristrikan Pengian Kesuma (Si But) puteri Almarhum Sultan Muhammad Kaharuddin, dari perkawinan ini beranak Datoe Belumbung, Datoe Tiras gelar Datoe Nik dan Datoe Muhammad gelar Datoe Bendahara.


Setelah Sultan Muhammad Azimuddin wafat, maka pemerintahan kemudian diteruskan oleh isterinya yaitu Pengian Kesuma sebagai Pemangku. Kebijaksanaan ini membuat pihak Salimbatu menjadi serba salah, sebagaimana menurut kesepakatan adat setelah giliran Tanjung Palas menjadi Sultan maka giliran dari Seriang-lah yang menggantikannya. Tapi garis keturunan Seriang sudah dianggap bubar, hanya tinggal Tanjung Palas dan Salimbatu. Adapun Pengian Kesuma memang dari garis keturunan Salimbatu tapi berstatus janda Sultan dari Tanjung Palas dan juga bermukim di Tanjung Palas. Keadaan bertambah jadi serba salah lagi ketika putera Almarhum Sultan Muhammad Azimuddin yang bernama Datoe Belumbung diangkat menjadi Sultan bergelar Sultan Muhammad Kasimuddin. Kesemua ini sudah tentu permainan politik Belanda belaka. Walaupun giliran tetap berjalan menurut garis keturunan (tanpa garis keturunan Seriang) tetapi lebih banyak menguntungkan pihak Tanjung Palas.

Pada waktu Sultan Muhammad Kasimuddin (Datoe Belumbung) diangkat menjadi Sultan, Datoe Maoelana Radja Salimbatu sudah wafat, oleh karena isteri pertama dari Almarhum Datoe Maoelana yaitu Ratu Intan Doera adalah pewaris dari Kerajaan Tarakan maka keturunan mereka mewarisi pula wilayah kerajaan itu. Putera Sulung Datoe Maoelana yang bernama Datoe Adil kemudian meneruskan menjadi Raja Tarakan, dan yang berkedudukan di Salimbatu adalah putera Datoe Maoelana yang bernama Datoe Djamaloel.

Ketika Perusahaan Tambang Belanda mengeksploitasi minyak di Tarakan mulai berjalan maka Datoe Adil pindah ke Salimbatu (tahun 1905) dan salah seorang kerabat yang bernama Haji Ali Yusuf bin Haji Aji Muda yang melaksanakan tugas pemerintahan yang berkedudukan di Tarakan. Berpindahnya Datoe Adil dari Tarakan ke Salimbatu adalah dikarenakan pandangan yang serupa dengan garis keturunan Seriang yang pada dasarnya tidak menyukai Belanda, maka mereka lebih banyak menghindar dari pergaulan dengan Belanda. Pandangan dan sikap dari warga Salimbatu (juga Tarakan) ini bukan tidak diketahui Belanda, terlebih terhadap pengangkatan Datoe Belumbung menjadi Sultan, hanya terhalang oleh hubungan keluarga saja. Namun akhirnya sikap menentang jadi lebih terbuka. Peraturan-peratuaran yang ditetapkan oleh penjajah Belanda dan pihak Sultan tidak diperdulikan, pajak kerajaan tidak dilaksanakan dan sikap-sikap menentang lainnya terhadap pihak Belanda yang semakin banyak mencampuri ketentuan-ketentuan yang menjadi tradisi keluarga kesultanan. Setelah Sultan mengetahui dan menyadari bahwa situasi makin membahayakan kedudukannya maka ia bertindak lebih dulu. Dengan dalih tidak adanya setoran pajak maka Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana (salah seorang kerabat dari Salimbatu) ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh Belanda kemudian atas permintaan Sultan agar Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana di buang ke pengasingan.
Sebagaimana kaum kerabat dari garis keturunan Seriang demikian pula halnya dengan garis keturunan Salimbatu. Semenjak Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana diasingkan maka wilayah Salimbatu dan wilayah Kerajaan Tarakan pun langsung dibawah perintah Sultan Bulungan.

Setelah Sultan Muhammad Kasimuddin wafat, maka Datoe Mansyur gelar Datoe Bandar bin Muluk menjabat sebagai Pemangku dengan dalih karena putera Almarhum Sultan Muhammad Kasimuddin yaitu Ahmad Sulaiman belum cukup umur. Kebijaksanaan ini diambil guna menghindarkan perselisihan masalah garis keturunan untuk giliran jabatan Sultan. Dan Datoe Mansyur adalah termasuk garis keturunan Salimbatu. Walaupun yang menjabat sebagai raja di wilayah Salimbatu sudah tidak ada, tetapi masih dikhawatirkan timbulnya reaksi dari Salimbatu. Setelah keadaan dianggap memungkinkan dan dianggap tidak akan timbul permasalahan lagi dari pihak Salimbatu barulah Ahmad Sulaiman dilantik menjadi Sultan. Masa pemerintahan Sultan Ahmad Sulaiman amatlah singkat dan beliau wafat dalam usia muda.

Sebagai Sultan berikutnya maka diangkatlah paman Sultan Ahmad Sulaiman yang bernama Datoe Tiras (Datoe Nik) bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin yang merupakan raja terakhir dari Kesultanan Bulungan.

Kerajaan Tarakan Setelah Berdirinya Kerajaan Bulungan

Sebagaimana telah diriwiyatkan bahwa Raja Tarakan yaitu Pengiran Mustafa gelar Amiril Pengiran Maharajalila (II) dibunuh oleh Wira Amir, dan atas dukungan Radja Berau kemudian Wira amir membentuk kerajaan sendiri di Baratan. Sebagai penerus Raja Tarakan kemudian adalah putera Amiril Pengiran Maharajalila (II) yang bergelar Amiril Pengiran Dipati (II). Masa pemerintahan Amiril Pengiran Dipati (II) berlangsung selama 34 tahun. Pada masa pemerintahan ini Raja Tarakan mengadakan serangan pembalasan terhadap Wira Amir di Baratan dipimpin langsung oleh Amiril Pengiran Dipati (II) namun tidak berhasil bahkan Amiril Pengiran Dipati (II) dapat dilukai. Dalam keadaan luka parah Amiril Pengiran Dipati (II) merasa malu untuk kembali ke Tarakan karena serangan tersebut kurang didukung oleh kaum kerabatnya. Amiril Pengiran Dipati (II) kemudian diantar ke suatu daerah terpencil di Sungai Simasulem dekat Serudung (perbatasan Sabah dengan Indonesia) yang kemudian wafat dan dimakamkan disana. Karena kejadian tersebut merupakan sesuatu yang memalukan bagi warga Kerajaan Tarakan pada waktu itu terutama para keturunan Amiril Pengiran Dipati (II), mereka sangat enggan menceritakan riwayatnya, sehingga nama Amiril Pengiran Dipati (II) hampir dilupakan orang demikian pula dengan raja-raja sebelumnya turut menjadi kabur dalam sejarah Kerajaan Tarakan.

Pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh putera Amiril Pengiran Dipati (II) yang bergelar Amiril Pengiran Maharajalila (III) yang beristrikan Aji Intan gelar Pengian Kesuma kemudian beranak Aji Intan (Selma), Datoe Mancang (Semudang), Datoe Syahbuddin dan Datoe Maharajalila yang kemudian menjadi Sultan Bulungan bergelar Sultan Muhammad Kaharuddin (II). Amiril Pengiran Maharajalila (III) memerintah selama 35 tahun dan setelah wafat digantikan oleh adiknya yang bernama Pengiran Amir Tadjoeddin.

Dari beberapa catatan yang ada menyebutkan bahwa Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin memerintah pada tahun 1817-1844. Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin berputera Pengiran Djamaloel Kiram, Pengiran Adil Kiram dan Pengiran Sahabuddin. Setelah Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin wafat digantikan oleh puteranya yang bernama Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1967).

Amiril Pengiran Djamaloel Kiram beristrikan Tuan Dayang puteri Radja Tungku (dari daerah Sabah). Dari perkawinan ini melahirkan Pengiran Djamaloel, Dayang Tima dan Ratu Intan Doera yang bersuamikan Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana putera Sultan Bulungan Muhammad Kaharuddin (II) dari Salimbatu.
Setelah Pengiran Djamaloel Kiram wafat digantikan oleh manantunya yaitu suami Ratu Intan Doera yang kemudian bergelar Datoe Maoelana Amir Bahar (1867-1896).

Dari perkawinan dengan Ratu Intan Doera dengan Datoe Maoelana Amir Bahar beroleh enam orang anak yaitu Datoe Adil, Datoe Djamaloel, Datoe Ranik, Datoe Ali, Ratu Intan dan Dayang Ranik.
Dari isteri yang lain Datoe Maoelana Amir Bahar beroleh lima anak yaitu Datoe Merulan, Datoe Amai, Dayang Sumbun, Si Pantang dan Si Tinggal. Setelah Datoe Maulana Amir Bahar wafat, kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Datoe Adil.

Selain menjadi Radja Tarakan (dari garis keturunan ibunya) Datoe Adil juga termasuk dalam garis keturunan Radja Bulungan (dari ayahnya). Sesuai dengan ketentuan adat keluarga Kerajaan Bulungan, Datoe Adil juga berhak atas Tahta Bulungan dari jalur Raja Salimbatu.
Pada masa pemerintahan Datoe Adil (1896-1916) ditemukan sumber minyak di Pulau Tarakan oleh BPM.
Mengingat wilayah penambangan tersebut berada di bawah kekuasaan Raja Tarakan, maka konsesi pertambangan diberikan oleh Raja Tarakan dan royaltinya juga didapat oleh Raja Tarakan. Dengan pendapatan yang cukup besar dari hasil minyak tersebut menimbulkan keresahan di kalangan kesultanan. Kemudian dimulai kegiatan-kegiatan untuk menjatuhkan Raja Tarakan di mata pemerintah Belanda.
Karena sikap Raja Tarakan (maupun raja-raja sebelum Datoe Adil) yang tidak menyukai keberadaan Pemerintah Belanda maka pihak Kesultanan menemukan titik kelemahan di pihak Raja Tarakan. Terlebih lagi sikap Raja Tarakan (yang juga dari garis keturunan Salimbatu) terhadap pengangkatan Datoe Belumbung menjadi Sultan yang dianggap menyalahi tradisi pengangkatan Raja Bulungan memang menjadi kekhawatiran pihak Sultan. Kemudian pula Raja Tarakan banyak mengabaikan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Belanda dan Pihak Sultan. Maka dengan dalih tidak adanya setoran pajak kemudian Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana ditangkap dan atas permintaan Sultan kemudian diasingkan ke pembuangan yaitu Datoe Adil dan Aji Maoelana ke Manado, Datoe Djamaloel ke Makassar pada tahun 1916. Hingga disini berakhirlah Dinasty Kerajaan Tarakan.

5 Comments:

Yatie said...

saya Norhayati Binti Uddin ingin berkonsi dengan kalian yang saya ada gambar sultan bulungan yang asli yang di bawa ke sabah ini sewaktu perang,tak tau sangat perang apa,bapa saya bagitau gambar tu dari istana sultan bulungan..bapa saya juga pernah berkata yang dia adalah keturunan dari sulatan bulungan..saya juga tak pasti jika itu benar atau tidak.

Yatie said...

Hai...Nama saya Norhayati Binti Uddin..disini saya ingin berkongsi dengan kalian yang saya ada menyimpan gambar sultan bulungan yang di bawa dari indonesia sewaktu itu mereka lari dari peperangan.tak tau peperangan apa saya juga tak pasti..tapi yang pastinya bapa saya juga pernah berkata yang dia juga dari keturunan sultan bulungan ..

Yatie said...

Hai...Nama saya Norhayati Binti Uddin..disini saya ingin berkongsi dengan kalian yang saya ada menyimpan gambar sultan bulungan yang di bawa oleh bapa saya dari indonesia sewaktu itu mereka lari dari peperangan.tak tahu peperangan apa saya juga tak pasti..tapi yang pastinya bapa saya juga pernah berkata yang dia juga dari keturunan sultan bulungan ..

mariana octavianti said...

Maaf saya bisa minta akun facebook atau twitter kamu? Ada yang ingin saya tanyakan terima kasih. By Nana di Tarakan.

Aji taruna Zakaria said...

karajaan tidung bukan tarakan yang ada...malinau punya kerajaan jga yaitu kerajaan tidung malinau raja terakirnya raja pandita yang di asingkan kepula seribu yaitu pulau tidung

 
Template by : uniQue template  |  Modified by : Takapana Blog