Home Sejarah Tidung Lirik Lagu Tidung Diskusi Wiro Sableng Bahasa Tidung Obral Plus Delapan Agustus Belajar buat website


Senin, 12 Desember 2011

Iraw Tengkayu 2011






Acara puncak penurunan padaw tuju dulung ini dilangsungkan pada tanggal 18 desember 2011, di pantai amal kota Tarakan....


Padaw Tuju Dulung (Tujuh Haluan) adalah merupakan sebuah perahu dengan bentuk yang khas, yang mana di atas perahu tersebut ditempatkan sesaji yang dihaturkan. Bentuk haluan perahu bercabang tiga. Haluan yang tengah bersusun tiga, haluan yang kanan dan kiri masing-masing bersusun dua, maka terdapat tujuh haluan yang bermaksudkan jumlah hari dalam seminggu dimana kehidupan manusia berlangsung dari hari dan seterusnya.

Warna perahu terdiri dari kuning, hijau dan merah. Haluan perahu yang teratas (ditengah) dan perlengkapan lainnya di atas berwarna kuning, yang mana kuning menurut tradisi budaya Suku Tidung adalah perlambang suatu kehormatan atau suatu yang ditinggikan dan dimulyakan. Hanya satu haluan yang berwana kuning bermaksud bahwa hanya satu penguasa tertinggi alam semesta yaitu Yang Maha Kuasa Allah SWT Sang Maha Pencipta. Di atas perahu terdapat lima buah tiang yang melambangkan sholat lima waktu yang merupakan tiang Agama Islam. Guna tiang-tiang tesebut adalah tempat mengikatkan atap dari kain berwarna kuning yang disebut PARI-PARI. Pada tiang kanan depan terpasang kain kuning ke haluan kanan, demikian pula pada tiang kiri depan memanjang turun ke haluan kiri.

Sabtu, 12 Desember 2009

GURINDAM IRAW TENGKAYU


Ramailah ramai orang berkunjung ke pantai amal
Riuh rendah suara-suara
Iraw Tengkayu ditunaikan disana
Pesta adat lama, kiasan penawar nestapa
Figure titisan refleksi seni budaya Tidung klasik, kian mengorbit.

Padaw tuju dulung telah di arak
Menuju lautan anatara Tarakan – Bunyu
Hadrah Rebana didendangkan pula
Dihiasi semarak bendera, yang beraneka warna.

Angin semilir dan deburan ombak
Menerpa dan gemercik menimpa diri
Pamuka Adat, para pengawal dan segala atributnya
Kelautan itulah, Padaw Tuju Dulung dilepas sudah.


Tarakan 19 April 2003

Akbarsyah MDJ Mahazan
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
(All Right Reserved)

Jumat, 18 September 2009

GURINDAM PULAU TARAKAN

Tanah Tidung, Pulau Tarakan dilingkari lautan tenang , muara aliran sungai-sungai.
Disanalah orang ramai berjumpa, datang dan pergi mencari nafkah ridha Illahi.
Engkau menyimpan aneka kenangan, setiap insani yang menginjakimu.
Tanah betuah pusaka Tidung, jasamu dinikmati berbilang kaum.
Hasrat hati ingin beramal menjunjungmu apakah mungkin dapat tergapai ?

Tanah Tidung, Pulau Tarakan, bumi dan laut menyimpan mutiara permata.
Kemilau cahayanya menjadi pemikat, telah memancar kesegala penjuru.
Engkau dijamah berbilang kaum mengisap sari madu yang engkau kandung.
Nikmat dan berkah telah engkau pasrahkan, pada insani yang membujuk dan merayu.
Hasrat hati ingin beramal menjunjungmu, apakah mungkin boleh berjaya ?

Semarak Tanah Tidung, Pulau Tarakan, sejak lama telah termahsyur.
Riwayatmu kini telah tercatat dalam sejarah, engkau bersaksi, engkau memberi.
Pahit getir peristiwa yang dialami, jasamu jualah yang telah tertabur, pada setiap insani yang telah menginjak, menjamah bahkan yang memerasmu sekalipun.
Hasrat hati ingin berkhidmat, apakah mungkin boleh berjaya ?

Insya Allah bukanlah hanya renungan semata, tanpa makna
Renung dan fikit itu pelita hati



Tarakan 19 April 2003
Akbarsyah MDJ Mahazan
Hak Cipta dilindungi undang-undang.
(All Right Reserved)

dikutif dari Buku Kerajaan Tidung Suatu Kenangan
Karya
Akbarsyah MDJ Mahazan

Senin, 03 Agustus 2009

Award dari Imam Setiyo "Naikkan Traffic rank"

Ada awards lagi negh dari SOBAT Imam Setiyo.

AWARDS KALI INI LEBIH ISTIMEWA KARENA BISA MENAIKKAN TRAFFIC RANK BLOG KITA LOH......HARUS SEGERA DIPRAKTEKKAN

Tanpa berpanjang lebar lagi, Ardiz Tarakan Borneo These Awards to :

  1. Sekolah Pramugari
  2. Johan - Pulau Bunyu
  3. Enrekang AsLi
  4. Parker - Maluku
  5. PuTLie - Jakarta
  6. Anggunpribadi - Jakarta
  7. Nonajwa - Tarakan
  8. jumri017
  9. Anak Pagun

“Bagi siapa saja yang menerima award ini diharuskan untuk membagikan kembali award ini kepada sepuluh orang temannya. Dan selanjutnya si penerima award harus meletakkan link-link berikut ini di blog atau artikel kamu dan mengunjungi semuanya :


  1. Mas Doyok
  2. Reza
  3. Rizky
  4. Omtomi
  5. Ote Tatsuya
  6. Cobaltblue's News
  7. Blog Go Blog
  8. Blog Imam Setiyo
  9. Ardiz Tarakan Borneo
  10. Takapana Musim Tidung

Nach, Begini aturannya ! sebelum sobat meletakkan link di atas, sobat harus menghapus peserta nomor 1 dari daftar. Sehingga semua peserta naik 1 level. Yang tadi nomor 2 jadi nomor 1, nomor 3 jadi 2, dst. Kemudian masukkan link sobat sendiri di bagian paling bawah (nomor 10). Tapi ingat ya, kalian semua harus fair dalam menjalankannya. Jika tiap penerima award mampu memberikan award ini kepada 5 orang saja dan mereka semua mengerjakannya , maka jumlah backlink yang akan didapat adalah :

Ketika posisi kamu 10, jumlah backlink = 1
Posisi 9, jml backlink = 5
Posisi 8, jml backlink = 25
Posisi 7, jml backlink = 125
Posisi 6, jml backlink = 625
Posisi 5, jml backlink = 3,125
Posisi 4, jml backlink = 15,625
Posisi 3, jml backlink = 78,125
Posisi 2, jml backlink = 390,625
Posisi 1, jml backlink = 1,953,125

Dan semuanya menggunakan kata kunci yang sobat inginkan. Dari sisi SEO sobat sudah mendapatkan 1,953,125 backlink dan efek sampingnya jika pengunjung web para downline kamu mengklik link itu, sobat juga mendapatkan traffik tambahan.

Nah, silahkan copy paste saja, dan hilangkan peserta nomor 1 lalu tambahkan link blog / website sobat di posisi 10. Ingat, sobat harus mulai dari posisi 10 agar hasilnya maksimal. Karena jika sobat tiba - tiba di posisi 1, maka link sobat akan hilang begitu ada yang masuk ke posisi 10.”

Demikian copas dari tulisan mas Imam Setiyo. Selamat mengambil award-nya, teman-teman. Tak lupa sekali lagi terimakasih buat Imam Setiyo yang sudah memberikan award ini kepada saya. Nah, selamat dan sukses buat semua sobat bloggerku !!!

Label: , , ,

Jumat, 31 Juli 2009

Kerajaan Tidung (bag. 2)

Dikemudian hari status yang setingkat ini berubah menjadi suatu kesatuan secara administratif berada di bawah Kesultanan Bulungan. Status ini tidak menjadi masalah bagi raja-raja yang dibawahi karena secara pisik tidak terdapat banyak perubahan terhadap kekuasaan di daerah masing-masing, selain itu pusat pemerintahan Belanda untuk wilayah Kesultanan Bulungan memang berada di wilayah Kerajaan Bulungan yaitu di Tanjung Selor. Dan satu hal yang patut di puji terhadap sikap raja-raja yang lain karena tidak terdapat maksud mengambil alih maupun merubah status tampuk kekuasaan dalam Kesatuan Kesultanan Bulungan, walaupun terdapat beberapa kebijaksanaan Sultan yang oleh para raja-raja lain dianggap lemah dan memberi keleluasaan terhadap pemerintahan penjajah. Hal ini dikarenakan antara Sultan dan para raja-raja terutama raja-raja dari suku Tidung terdapat hubungan darah kekeluargaan yang sangat dekat dan menyadari terhadap apa yang terjadi pada beberapa wilayah di luar Kesultanan Bulungan yang semula merupakan kerajaan besar kemudian terpecah-pecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil dengan wilayah dan penduduk dalam jumlah kecil pula. Hal ini tentulah ulah dari penjajah Belanda semata. Hanya beberapa orang dari keluarga terdekat Sultan menampakkan rekasi yang agak keras karena menuntut kesepakatan adat tentang ketentuan tradisi pengangkatan Sultan disamping protes terhadap sikap Belanda yang terlalu jauh mencampuri tradisi tersebut.

Telah diriwayatkan terlebih dahulu bahwa Sultan Alimuddin putera Wira Amir kawin dengan Aji Isa puteri Raja Tarakan Amiril Pengiran Maharajalila. Dari pekawinan ini melahirkan Maoelana dan Aji Galu. Maoelana kemudian mempunyai anak yaitu Aji Intan dengan gelar Pengiran Kesuma, Pengiran Tua, Pengiran Bijaksana dan Datoe Alam (Si Among). Setelah mempunyai cucu (dalam usia tua) Sultan Alimuddin kawin lagi dengan Pengian Intan dari Berau yang melahirkan Radja Muda Nik, Pengian Bijaksana dan Simad.

Setelah Sultan Alimuddin wafat maka putera sulungnya yang bernama Maoelana menggantikan sebagai Sultan, hal ini ditentang oleh Pengian Intan isteri kedua Sultan Alimuddin (Aji Isa sudah wafat lebih dulu). Pengian Intan menginginkan puteranya yang bernama Simad menjadi Sultan menggantikan ayahnya. Perselihan ini kemudian diatasi dengan kesepakatan membagi wilayah Kerajaan Bulungan (bukan wilayah Kesultanan Bulungan) yang meliputi wilayah Kecamatan Tanjung Palas sekarang dan kecamatan-kecamatan yang terletak di hulu Sungai Kayan (daerah pedalaman) menjadi tiga bagian.

  • Dari Seriang ke hulu (daerah pedalaman) dikuasai oleh putera Maoelana yang bernama Datoe Alam (Si Among) yang kemudian disebut sebagai wilayah Radja Seriang (Baratan).
  • Dari Tanjung Palas ke hilir sampai di Teras kemudian ke arah timur sampai daerah pesisir (Tanah Kuning, Mangkupadi dan lain-lain) dikuasai oleh Keturunan Pengian Intan yaitu Simad bersaudara yang kemudian disebut Radja Tanjung Palas.
  • Dari Teras ke hilir (bagian utara kecamatan Tanjung Palas sekarang) yang kemudian disebut wilayah Radja Salimbatu dikuasai oleh Aji Intan gelar Pengian Kesuma (Saudara kandung Datoe Alam) yang bersuamikan Raja Tarakan Amiril Pengiran Dipati (II)
Atas kesepakatan tersebut diatas, Raja-raja berikut keturunan masing-masing dari ketiga bagian wilayah tersebut akan bergilir menjadi Sultan. Yang kemudian naik tahta sebagai Sultan adalah dari Tanjung Palas yaitu Simad bergelar Sultan Amiril Kaharuddin yang juga disebut dengan nama Sultan Puan Tua.
Sultan Amiril Kaharuddin berputera tiga orang yaitu Datoe Kiding, Datoe Kieng dan Datoe Aji Kuning (Melundit).

Putera Sultan Amiril Kaharuddin yang bernama Datoe Kiding diangkat sebagai Sultan Muda bergelar Muhammad Jalaluddin khusus memerintah di wilayah Tanjung Palas. Sultan Muda Muhammad Jalaluddin tidak berusia panjang dan lebih dahulu wafat dari ayahnya.
Setelah Sultan Amiril Kaharuddin wafat, kemudian yang naik tahta sebagai Sultan adalah dari Seriang / Baratan yaitu anak dari Maoelana yang bernama Datoe Alam (Si Among) bergelar Sultan Muhammad Adil.
Sultan Muhammad Adil beranak Datoe Alam (muda), Datoe Alun, Datoe Bestari, Datoe Digadung, Tuan Haji Datoe, Pengian Intan dan Pengian Rindu.

Setelah Sultan Muhammad Adil wafat, kemudian yang naik tahta adalah dari Salimbatu yaitu Datoe Maharajalila begelar Sultan Muhammad Kaharuddin (II) putera dari (Aji Intan gelar Pengian Kesuma dengan suaminya Amiril Pengiran Dipati II Raja Tarakan). Sultan Muhammad Kaharuddin (II) beranak 4 putera dan 2 puteri yaitu Datoe Maoelana, Datoe Muluk, Datoe Bandar, Datoe Maharajalila (II), Pengian Kesuma (Si But) dan Tuan Haji Pengian.

Setelah Sultan Muhammad Kaharuddin (II) wafat, kemudian yang naik tahta adalah dari Tanjung Palas yaitu putera Almarhum Sultan Amiril Kaharuddin (Puan Tua) yang bernama Datoe Kieng bergelar Sultan Muhammad Azimuddin. Pengangkatan terhadap Datoe Kieng menjadi Sultan mendapat tantangan dari Datoe Alam (muda) putera Almarhum Sultan Muhammad Adil dari Seriang, karena Datoe Kieng dianggap kurang mampu dan tidak memenuhi syarat untuk menjadi Sultan. Adapun Datoe Maoelana putera Almarhum Sultan Muhammad Kaharuddin (II) selaku penguasa di daerah Kerajaan Salimbatu tidak mendukung reaksi Datoe Alam tersebut. Hal ini dikarenakan Datoe Kieng adalah adik ipar Datoe Maoelana dan pada masa-masa selanjutnya karena faktor kelemahan dari Datoe Kieng (Sultan Azimuddin) dimanfaatkan oleh Datoe Maoelana untuk memperluas pengaruhnya. Sikap menentang dari Datoe Alam tersebut semakin keras dengan mengusulkan agar Sultan Azimuddin turun tahta dari jabatan Sultan agar diteruskan oleh giliran berikutnya yaitu Radja Seriang. Sikap Datoe Alam (muda) yang dimata Pemerintahan Belanda tidak simpatik memang sudah terlihat sebelum pengangkatan Datoe Kieng menjadi Sultan. Karena beberapa garis kebijaksanaan Pemerintah Belanda selaku penjajah banyak ditentang oleh Datoe Alam (muda). Akibat sikap Datoe Alam yang menentang tersebut, maka Pemerintah Belanda menangkap dan mengasingkan Datoe Alam ke Jawa bersama para pendukungnya yaitu Ali Hanafiah dan Panembahan Radja Pendita (Raja Malinau). Setelah Datoe Alam diasingkan, maka kerabat keturunan Kerajaan Seriang lainnyapun bersikap apatis terhadap situasi pemerintahan, sebagian dari mereka tidak lagi bermukim di Seriang (Baratan) tapi pindah ke daerah Tana Tidung antara lain Datoe Alun di Pulau Sebatik, Datoe Bestari di Sesayap, Datoe Amir (putera Datoe Alam) di Pulau Mandul dan lain-lain. Wilayah Kerajaan Seriang kemudian langsung di bawah Perintah Sultan.
Datoe Kieng gelar Sultan Muhammad Azimuddin beristrikan Pengian Kesuma (Si But) puteri Almarhum Sultan Muhammad Kaharuddin, dari perkawinan ini beranak Datoe Belumbung, Datoe Tiras gelar Datoe Nik dan Datoe Muhammad gelar Datoe Bendahara.


Setelah Sultan Muhammad Azimuddin wafat, maka pemerintahan kemudian diteruskan oleh isterinya yaitu Pengian Kesuma sebagai Pemangku. Kebijaksanaan ini membuat pihak Salimbatu menjadi serba salah, sebagaimana menurut kesepakatan adat setelah giliran Tanjung Palas menjadi Sultan maka giliran dari Seriang-lah yang menggantikannya. Tapi garis keturunan Seriang sudah dianggap bubar, hanya tinggal Tanjung Palas dan Salimbatu. Adapun Pengian Kesuma memang dari garis keturunan Salimbatu tapi berstatus janda Sultan dari Tanjung Palas dan juga bermukim di Tanjung Palas. Keadaan bertambah jadi serba salah lagi ketika putera Almarhum Sultan Muhammad Azimuddin yang bernama Datoe Belumbung diangkat menjadi Sultan bergelar Sultan Muhammad Kasimuddin. Kesemua ini sudah tentu permainan politik Belanda belaka. Walaupun giliran tetap berjalan menurut garis keturunan (tanpa garis keturunan Seriang) tetapi lebih banyak menguntungkan pihak Tanjung Palas.

Pada waktu Sultan Muhammad Kasimuddin (Datoe Belumbung) diangkat menjadi Sultan, Datoe Maoelana Radja Salimbatu sudah wafat, oleh karena isteri pertama dari Almarhum Datoe Maoelana yaitu Ratu Intan Doera adalah pewaris dari Kerajaan Tarakan maka keturunan mereka mewarisi pula wilayah kerajaan itu. Putera Sulung Datoe Maoelana yang bernama Datoe Adil kemudian meneruskan menjadi Raja Tarakan, dan yang berkedudukan di Salimbatu adalah putera Datoe Maoelana yang bernama Datoe Djamaloel.

Ketika Perusahaan Tambang Belanda mengeksploitasi minyak di Tarakan mulai berjalan maka Datoe Adil pindah ke Salimbatu (tahun 1905) dan salah seorang kerabat yang bernama Haji Ali Yusuf bin Haji Aji Muda yang melaksanakan tugas pemerintahan yang berkedudukan di Tarakan. Berpindahnya Datoe Adil dari Tarakan ke Salimbatu adalah dikarenakan pandangan yang serupa dengan garis keturunan Seriang yang pada dasarnya tidak menyukai Belanda, maka mereka lebih banyak menghindar dari pergaulan dengan Belanda. Pandangan dan sikap dari warga Salimbatu (juga Tarakan) ini bukan tidak diketahui Belanda, terlebih terhadap pengangkatan Datoe Belumbung menjadi Sultan, hanya terhalang oleh hubungan keluarga saja. Namun akhirnya sikap menentang jadi lebih terbuka. Peraturan-peratuaran yang ditetapkan oleh penjajah Belanda dan pihak Sultan tidak diperdulikan, pajak kerajaan tidak dilaksanakan dan sikap-sikap menentang lainnya terhadap pihak Belanda yang semakin banyak mencampuri ketentuan-ketentuan yang menjadi tradisi keluarga kesultanan. Setelah Sultan mengetahui dan menyadari bahwa situasi makin membahayakan kedudukannya maka ia bertindak lebih dulu. Dengan dalih tidak adanya setoran pajak maka Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana (salah seorang kerabat dari Salimbatu) ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh Belanda kemudian atas permintaan Sultan agar Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana di buang ke pengasingan.
Sebagaimana kaum kerabat dari garis keturunan Seriang demikian pula halnya dengan garis keturunan Salimbatu. Semenjak Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana diasingkan maka wilayah Salimbatu dan wilayah Kerajaan Tarakan pun langsung dibawah perintah Sultan Bulungan.

Setelah Sultan Muhammad Kasimuddin wafat, maka Datoe Mansyur gelar Datoe Bandar bin Muluk menjabat sebagai Pemangku dengan dalih karena putera Almarhum Sultan Muhammad Kasimuddin yaitu Ahmad Sulaiman belum cukup umur. Kebijaksanaan ini diambil guna menghindarkan perselisihan masalah garis keturunan untuk giliran jabatan Sultan. Dan Datoe Mansyur adalah termasuk garis keturunan Salimbatu. Walaupun yang menjabat sebagai raja di wilayah Salimbatu sudah tidak ada, tetapi masih dikhawatirkan timbulnya reaksi dari Salimbatu. Setelah keadaan dianggap memungkinkan dan dianggap tidak akan timbul permasalahan lagi dari pihak Salimbatu barulah Ahmad Sulaiman dilantik menjadi Sultan. Masa pemerintahan Sultan Ahmad Sulaiman amatlah singkat dan beliau wafat dalam usia muda.

Sebagai Sultan berikutnya maka diangkatlah paman Sultan Ahmad Sulaiman yang bernama Datoe Tiras (Datoe Nik) bergelar Sultan Muhammad Jalaluddin yang merupakan raja terakhir dari Kesultanan Bulungan.

Kerajaan Tarakan Setelah Berdirinya Kerajaan Bulungan

Sebagaimana telah diriwiyatkan bahwa Raja Tarakan yaitu Pengiran Mustafa gelar Amiril Pengiran Maharajalila (II) dibunuh oleh Wira Amir, dan atas dukungan Radja Berau kemudian Wira amir membentuk kerajaan sendiri di Baratan. Sebagai penerus Raja Tarakan kemudian adalah putera Amiril Pengiran Maharajalila (II) yang bergelar Amiril Pengiran Dipati (II). Masa pemerintahan Amiril Pengiran Dipati (II) berlangsung selama 34 tahun. Pada masa pemerintahan ini Raja Tarakan mengadakan serangan pembalasan terhadap Wira Amir di Baratan dipimpin langsung oleh Amiril Pengiran Dipati (II) namun tidak berhasil bahkan Amiril Pengiran Dipati (II) dapat dilukai. Dalam keadaan luka parah Amiril Pengiran Dipati (II) merasa malu untuk kembali ke Tarakan karena serangan tersebut kurang didukung oleh kaum kerabatnya. Amiril Pengiran Dipati (II) kemudian diantar ke suatu daerah terpencil di Sungai Simasulem dekat Serudung (perbatasan Sabah dengan Indonesia) yang kemudian wafat dan dimakamkan disana. Karena kejadian tersebut merupakan sesuatu yang memalukan bagi warga Kerajaan Tarakan pada waktu itu terutama para keturunan Amiril Pengiran Dipati (II), mereka sangat enggan menceritakan riwayatnya, sehingga nama Amiril Pengiran Dipati (II) hampir dilupakan orang demikian pula dengan raja-raja sebelumnya turut menjadi kabur dalam sejarah Kerajaan Tarakan.

Pemerintahan selanjutnya diteruskan oleh putera Amiril Pengiran Dipati (II) yang bergelar Amiril Pengiran Maharajalila (III) yang beristrikan Aji Intan gelar Pengian Kesuma kemudian beranak Aji Intan (Selma), Datoe Mancang (Semudang), Datoe Syahbuddin dan Datoe Maharajalila yang kemudian menjadi Sultan Bulungan bergelar Sultan Muhammad Kaharuddin (II). Amiril Pengiran Maharajalila (III) memerintah selama 35 tahun dan setelah wafat digantikan oleh adiknya yang bernama Pengiran Amir Tadjoeddin.

Dari beberapa catatan yang ada menyebutkan bahwa Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin memerintah pada tahun 1817-1844. Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin berputera Pengiran Djamaloel Kiram, Pengiran Adil Kiram dan Pengiran Sahabuddin. Setelah Amiril Pengiran Amir Tadjoeddin wafat digantikan oleh puteranya yang bernama Pengiran Djamaloel Kiram (1844-1967).

Amiril Pengiran Djamaloel Kiram beristrikan Tuan Dayang puteri Radja Tungku (dari daerah Sabah). Dari perkawinan ini melahirkan Pengiran Djamaloel, Dayang Tima dan Ratu Intan Doera yang bersuamikan Datoe Jaring gelar Datoe Maoelana putera Sultan Bulungan Muhammad Kaharuddin (II) dari Salimbatu.
Setelah Pengiran Djamaloel Kiram wafat digantikan oleh manantunya yaitu suami Ratu Intan Doera yang kemudian bergelar Datoe Maoelana Amir Bahar (1867-1896).

Dari perkawinan dengan Ratu Intan Doera dengan Datoe Maoelana Amir Bahar beroleh enam orang anak yaitu Datoe Adil, Datoe Djamaloel, Datoe Ranik, Datoe Ali, Ratu Intan dan Dayang Ranik.
Dari isteri yang lain Datoe Maoelana Amir Bahar beroleh lima anak yaitu Datoe Merulan, Datoe Amai, Dayang Sumbun, Si Pantang dan Si Tinggal. Setelah Datoe Maulana Amir Bahar wafat, kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Datoe Adil.

Selain menjadi Radja Tarakan (dari garis keturunan ibunya) Datoe Adil juga termasuk dalam garis keturunan Radja Bulungan (dari ayahnya). Sesuai dengan ketentuan adat keluarga Kerajaan Bulungan, Datoe Adil juga berhak atas Tahta Bulungan dari jalur Raja Salimbatu.
Pada masa pemerintahan Datoe Adil (1896-1916) ditemukan sumber minyak di Pulau Tarakan oleh BPM.
Mengingat wilayah penambangan tersebut berada di bawah kekuasaan Raja Tarakan, maka konsesi pertambangan diberikan oleh Raja Tarakan dan royaltinya juga didapat oleh Raja Tarakan. Dengan pendapatan yang cukup besar dari hasil minyak tersebut menimbulkan keresahan di kalangan kesultanan. Kemudian dimulai kegiatan-kegiatan untuk menjatuhkan Raja Tarakan di mata pemerintah Belanda.
Karena sikap Raja Tarakan (maupun raja-raja sebelum Datoe Adil) yang tidak menyukai keberadaan Pemerintah Belanda maka pihak Kesultanan menemukan titik kelemahan di pihak Raja Tarakan. Terlebih lagi sikap Raja Tarakan (yang juga dari garis keturunan Salimbatu) terhadap pengangkatan Datoe Belumbung menjadi Sultan yang dianggap menyalahi tradisi pengangkatan Raja Bulungan memang menjadi kekhawatiran pihak Sultan. Kemudian pula Raja Tarakan banyak mengabaikan peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Belanda dan Pihak Sultan. Maka dengan dalih tidak adanya setoran pajak kemudian Datoe Adil, Datoe Djamaloel dan Aji Maoelana ditangkap dan atas permintaan Sultan kemudian diasingkan ke pembuangan yaitu Datoe Adil dan Aji Maoelana ke Manado, Datoe Djamaloel ke Makassar pada tahun 1916. Hingga disini berakhirlah Dinasty Kerajaan Tarakan.

Sabtu, 04 Juli 2009

Kerajaan Tidung (Bag. 1)

Riwayat tentang kerajaan maupun pemimpin (Raja) yang pernah memerintah dikalangan suku Tidung terbagi dari beberapa tempat yang sekarang sudah terpisah menjadi beberapa daerah Kabupaten antara lain Kabupaten Bulungan (Kecamatan Tanjung Palas, Desa Salimbatu), Kabupaten Malinau, Kabupaten Tana Tidung, Kabupaten Nunukan (Kecamatan Sembakung), Kota Tarakan dan lain-lain hingga ke daerah Sabah (Malaysia) bagian selatan.

Dari riwayat-riwayat yang terdapat dikalangan suku Tidung tentang kerajaan yang pernah ada dan dapat dikatakan yang paling tua diantara riwayat lainnya yaitu dari Menjelutung di Sungai Sesayap dengan rajanya yang terakhir bernama Benayuk. Berakhirnya zaman kerajaan Menjelutung karena ditimpa malapetaka berupa hujan ribut dan angin topan yang sangat dahsyat sehingga mengakibatkan perkampungan di situ runtuh dan tenggelam kedalam air (sungai) berikut warganya. Peristiwa tersebut dikalangan suku Tidung disebut Gasab yang kemudian menimbulkan berbagai mitos tentang Benayuk dari Menjelutung.

Dari beberapa sumber didapatkan riwayat tentang masa pemerintahan Benayuk yang berlangsung sekitar 35 musim. Perhitungan musim tersebut adalah berdasarkan hitungan hari bulan (purnama) yang dalam semusim terdapat 12 purnama. Dari itu maka hitungan musim dapat disamakan +kurang lebih dengan tahun Hijriah. Apabila dirangkaikan dengan riwayat tentang beberapa tokoh pemimpin (Raja) yang dapat diketahui lama masa pemerintahan dan keterkaitannya dengan Benayuk, maka diperkirakan tragedi di Menjelutung tersebut terjadi pada sekitaran awal abad XI.

Kelompok-kelompok suku Tidung pada zaman kerajaan Menjelutung belumlah seperti apa yang terdapat sekarang ini, sebagaimana diketahui bahwa dikalangan suku Tidung yang ada di Kalimantan timur sekarang terdapat 4 (empat) kelompok dialek bahasa Tidung, yaitu :
1. Dialek bahas Tidung Malinau
2. Dialek bahasa Tidung Sembakung.
3. Dialek bahas Tidung Sesayap.
4. Dialek bahas Tidung Tarakan yang biasa pula disebut Tidung Tengara yang kebanyakan bermukim di daerah air asin.

Dari adanya beberapa dialek bahasa Tidung yang merupakan kelompok komunitas berikut lingkungan sosial budayanya masing-masing, maka tentulah dari kelompok-kelompok dimaksud memiliki pemimpin masing-masing. Sebagaimana diriwayatkan kemudian bahwa setelah kerajaan Benayuk di Menjelutung runtuh maka anak keturunan beserta warga yang selamat berpindah dan menyebar kemudian membangun pemukiman baru. Salah seorang dari keturunan Benayuk yang bernama Kayam selaku pemimpin dari pemukiman di Linuang Kayam (Kampung si Kayam) yang merupakan cikal bakal dari pemimpin (raja-raja) di Pulau Mandul, Sembakung dan Lumbis.

Selang 15 (lima belas) musim setelah Menjelutung runtuh seorang keturunan Benayuk yang bernama Yamus (Si Amus) yang bermukim di Liyu Maye mengangkat diri sebagai raja yang kemudian memindahkan pusat pemukiman ke Binalatung (Tarakan). Yamus memerintah selama 44 (empat puluh empat) musim, setelah wafat Yamus digantikan oleh salah seorang cucunya yang bernama Ibugang (Aki Bugang), Ibugang beristrikan Ilawang (Adu Lawang) beranak tiga orang. Dari ketiga anak ini hanya seorang yang tetap tinggal di Binalatung yaitu bernama Itara, yang satu ke Betayau dan yang satu lagi ke Penagar.

Ibugang wafat setelah mmerintah selama 22 (dua puluh dua) musim yang kemudian digantikan oleh Itara yang memerintah selama 29 (dua puluh sembilan) musim. Anak keturunan Itara yang bernama Ikurung kemudian meneruskan pemerintahan dan memerintah selama 25 (dua puluh lima) musim. Ikurung beristrikan Puteri Kurung yang beranakkan Ikarang yang kemudian menggantikan ayahnya yang telah wafat. Ikarang memerintah selama 35 (tiga puluh lima) musim di Tanjung Batu (Tarakan).

Raja selanjutnya bernama Karangan yang bristrikan Puteri Kayam (Puteri dari Linuang Kayam) yang kemudian beranakkan Ibidang. Raja selanjutnya bernama Bengawan yang diriwayatkan sebagai seorang raja yang tegas dan bijaksana dan wilayah kekuasaannya di pesisir melebihi batas wilayah pesisir Kabupaten Bulungan sekarang yaitu dari Tanjung Mangkaliat di selatan kemudian ke utara sampai di Kudat (Sabah, Malaysia). Diriwayatkan pula bahwa Raja Bengawan sudah menganut Agama Islam dan memerintah selama 44 (empat puluh empat) musim. Setelah Bengawan wafat ia digantikan oleh puteranya yang bernama Itambu, yang memerintah selama 20 (dua puluh) musim. Setelah Itambu wafat, pemerintahan kemudian dipimpin oleh raja yang bergelar Aji Beruwing Sakti yang memerintah selama 30 (tiga puluh) musim, kemudian digantikan oleh Aji Surya Sakti yang memerintah selama 30 (tiga puluh) musim.
Setelah Aji Surya Sakti wafat kemudian digantikan oleh puteranya yang bernama Aji Pengiran Kungun yang memerintah selama 25 (dua puluh lima) musim. Raja selanjutnya bernama Pengiran Tempuad yang kemudian kawin dengan raja perempuan suku Kayan di Sungai Pimping bernama Ilahai.

Pengiran Tempuad memerintah selama 34 (tiga puluh empat) musim kemudian digantikan oleh Aji Iram Sakti yang memerintah selama 25 (dua puluh lima) musim, pada masa ini raja berkedudukan di Pimping. Aji Iram Sakti mempunyai anak perempuan yang bernama Adu Idung. Setelah Aji Iram Sakti wafat kemudian digantikan oleh kemanakannya yang bernama Aji Baran Sakti yang beristrikan Adu Idang. Dari perkawinan ini lahirlah Datoe Mancang. Aji Baran Sakti memerintah selama 20 (dua puluh) musim. Datoe Mancang kemudian menggantikan ayahnya sebagai raja dan diriwayatkan bahwa masa pemerintahan Datoe Mancang adalah yang paling lama yaitu 49 (empat puluh sembilan) musim.

Keturunan Datoe Mancang yang meneruskan pemerintahan adalah Abang Lemanak yaitu memerintah selama 20 (dua puluh) musim dan pada masa ini raja berkedudukan di Baratan.
Abang Lemanak kemudian digantikan oleh adik bungsunya yang bernama Ikenawai (seorang wanita). Ikenawai bersuamikan Datoe Radja Laut keturunan Radja Suluk. Setelah memerintah selama + 15 (lima belas) musim pemerintahan kemudian diserahkan kepada suaminya.
Pemerintahan kemudian kembali ke Tarakan (di Pamusian). Pada masa ini kerajaan Tidung yang dikuasai Ikenawai dapat disatukan dengan kerajaan Suluk dibawah perintah Datoe Radja Laoet yang kemudian bergelar Sultan Abdurrasid.

Sejak masa pemerintahan Sultan Abdurrasid, riwayat-riwayat dari para nara sumber sudah menyebutkan tahun hijriah yang hitungannya tidak berbeda dengan hitungan musim, dan diriwayatkan bahwa masa pemerintahan Sultan Abdurrasid berlangsung selama 14 tahun. Sultan Abdurrasid dan Ikenawai (bergelar Ratu Ulam Sari) beranak dua orang putera dan satu puteri (meninggal sebelum dewasa). Kedua orang putera ini bergelar Dipati Anum dan Wira Kelana. Setelah Sultan Abdurrasid wafat, kemudian digantikan oleh Dipati Anum yang bergelar Amiril Pengiran Dipati dan Wira Kelana sebagai Radja Muda. Pada masa ini kerajaan Suluk kembali memisahkan diri dengan rajanya adalah adik bungsu Sultan Abdurrasid yang bernama Datoe Mering. Amiril Pengiran Dipati kawin dengan Mayang Sari anak Pengiran Sukmana dari Sebawang (di wilayah Kecamatan Sesayap sekarang) yang kemudian melahirkan Pengiran Singa Laoet, Mayang Sari (muda), Sukma Sari dan Kumala Sari.

Saudara Amiril Pengiran Dipati yaitu Radja Muda Wira Kelana kawin dengan Aji Dayang Minti anak Imam Dagiri (berasal dari Demak) dengan isterinya Sukma Dewi Puteri Petung dari Kerajaan Pasir. Dari perkawinan Wira Kelana dan Aji Dayang Minti beranakkan Digadung dan Kidung Bulan. Digadung kemudian kawin dengan sepupunya yaitu anak Amiril Pengiran Dipati yang bernama Mayang Sari (muda) yang kemudian beranak Wira Amir, Aji Sari dan Aji Dayang.
Aji Dayang bersuamikan Datoe Kana Dumaring dari Berau dan beranakkan Pengiran Mas, Pengiran Digadung dan Sekennink. Dari suami yang kedua yaitu Muhammad Al-Musyarafah (dari Irak) Aji Dayang melahirkan Radja Besar dan Zainal Abidin Al-Mukarramah.
Anak perempuan Digadung yang bernama Aji Sari bersuamikan Kasimuddin asal Bone (Sulawesi Selatan) kemudian melahirkan tiga orang putera yiatu Kapitan Raga, Kapitan Maburapadasirata dan Kapitan Kalipakan.
Anak laki-laki Digadung yang bernama Wira Amir kawin dengan sepupunya yaitu anak Pengiran Singa Laoet yang bernama Sinaran Bulan dan melahirkan anak yang kemudian menjadi Raja Bulungan bergelar Sultan Alimuddin dan biasa pula disebut sebagai Marhum Salimbatu.

Diriwayatkan bahwa raja Amiril Pengiran Dipati (Dipati Anum) memerintah selama 42 tahun dan setelah wafat kemudian digantikan oleh puteranya yang bergelar Amiril Pengiran Singa Laoet yang melanjutkan pemerintahan selam 37 tahun.
Amiril Pengiran Singa Laoet digantikan pula oleh puteranya yang kemudian bergelar Amiril Pengiran Maharajalila yang memerintah selama 45 tahun.

Isteri Raja Amiril Pengiran Singa Laoet bernama sari Banun yang melahirkan Amiril Pengiran Maharajalila dan Sinaran Bulan yang kemudian bersuamikan Wira Amir yang memimpin Kewiraan (semacam panglima pada zaman sekarang).

Amiril Pengiran Maharajalila beranak Intuyun, Aji Jubida yang bersuamikan Zainal Abidin Al-Mukarramah putera Aji Dayang, Aji Jubida yang bersuamikan Sultan Alimuddin putera Wira Amir, dan Pengiran Mustafa yang kemudian menggantikan ayahnya sebagai raja bergelar Amiril Pengiran Maharajalila (II) yang kemudian berisrikan Siti Nurlaila puteri Pengiran Prabu Sakti bin Pengiran Besar Pendekar Laoet dari daerah Sesayap. Dari perkawinan ini melahirkan Pengiran Dipati, Pengiran Maharajadinda Bertanduk, Pengiran Lukmanul Hakim, Pengiran Jafarudin dan Siti Nurbaya yang bersuamikan Pengiran Besar Kar bin Pengiran Amangkurat bin Pengiran Prabu Sakti dari daerah Sesayap.

Amiril Pengiran Maharajalila (II) juga beristrikan Puteri Radja Kayan di Pimping yang kemudian melahirkan Pengiran Surya. Diriwayatkan bahwa masa pemerintahan Amiril Pengiran Maharajalila (II) adalah selama 29 tahun. Beliau wafat karena dibunuh oleh pamamnya yang bernama Wira Amir yang akibat ambisinya ingin menguasai pemerintahan dan segala tipu dayanya berhasil membunuh Pengiran Mustafa / Amiril Pengiran Maharajalila (II) dengan dalih kecelakaan.

Kemudian Wira Amir mengambil alih tampuk pemerintahan. Para kerabat raja menentang tindakan Wira Amir tersebut dan kemudian ditunjuk Amiril Pengiran Dipati (II) sebagai raja. Wira Amir kemudian mengasingkan diri ke Berau, atas dukungan Raja Berau Wira Amir kemudian membentuk kerajaan sendiri dan bergelar Amiril Mukminin dengan kedudukan di Baratan. Atas dasar inilah (mungkin) pihak Berau pernah menyatakan bahwa wilayah Kesultanan Bulungan dulunya berada dibawah kekuasaan Raja Berau. Hal ini sangat sulit dibenarkan karena hanya merupakan pernyataan sepihak mengingat banyaknya riwayat yang terdapat diwilayah Kabupaten Bulungan bertentangan dengan apa yang dinyatakan tersebut.

Apabila yang dimaksudkan adalah wilayah yang dikuasai Wira Amir, boleh jadi ada kemungkinannya karena sudah tentu ada kesepakatan antara Wira Amir dengan pihak Kerajaan Berau atas dukungan terhadap pembentukan kerajaan baru yang dipimpin oleh Wira Amir yang merupakan cikal bakal dari kerajaan yang kemudian disebut Kesultanan Bulungan.

Sebagaimana perkembangan selanjutnya yaitu setelah Wira Amir wafat digantikan oleh puteranya yang bergelar Sultan Alimuddin yang berkedudukan di Salimbatu pada masa inilah dinyatakan bahwa Kerajaan Bulungan resmi terpisah dari Berau dalam arti berdiri sendiri tanpa membawahi maupun dibawah perintah kerajaan lain, baik itu dengan Kerajaan Berau maupun kerajaan-kerajaan lain yang berada di wilayah Kaltara sekarang seperti Kerajaan Sesayap, Kerajaan Sembakung maupun Kerajaan Tarakan yang merupakan kelanjutan dari dinasty dimana cikal bakal Kerajaan Bulungan adalah keturunan dari dinasty yang sama.

Sebagaimana diketahui pula bahwa pada awal masa pemerintahan Kolonial Belanda membawahi raja-raja di wilayah Kabupaten Bulungan, wilayah ini terbagi 4 (empat) daerah Swapraja yaitu Swapraja Bulungan, Swapraja Sembakung, Swapraja Sesayap dan Swapraja Tarakan dalam arti keempat daerah ini berkedudukan setingkat dalam pemerintahan penjajahan Belanda.

Sumber : http://www.facebook.com/profile.php?id=1207375060#/topic.php?uid=104219931577&topic=8411

 
Template by : uniQue template  |  Modified by : Takapana Blog