Home Sejarah Tidung Lirik Lagu Tidung Diskusi Wiro Sableng Bahasa Tidung Obral Plus Delapan Agustus Belajar buat website


Selasa, 24 Februari 2009

Budaya Tradisi Betimbang dan Masak Indong

Mamburungan, TARAKAN. Betimbang dalam bahasa daerahnya orang asli Tarakan (Tidung) artinya di timbang.
Bulan Safar yang terdapat dalam kalender Penanggalan Hijriyah(Islam), menurut kepercayaan
masyarakat suku kaum Tidung adalah bulan waktu diturunkannya malapetaka/bala.

Jadi agar terhindar dari malapetaka/bala, maka setiap anak dari suku kaum Tidung
yang lahir pada bulan safar haruslah mengadakan Tradisi Betimbang sebanyak tiga kali
dimana pelaksanaan Tradisi Betimbang adalah pada setiap bulan Safar.

Tata cara pelaksanaannya, seperti yang penulis saksikan langsung pada acara Tradisi Betimbang
yang dilaksanakan di Kelurahan Mamburungan, Acara dilaksanakan di pagi hari sekitar jam tujuh pagi,
dengan dihadiri para Tetua masyarakat Tidung Mamburungan.

sang Anak duduk di atas Timbangan yang telah dibuat sedemikian rupa, sementara kitab Suci Alqur'an,
Sayur-sayuran, dan Makanan di simpan di atas timbangan lainnya, sehingga kedudukannya menjadi seimbang.
setelah itu anak diturunkan, dan digantikan dengan sayur-sayuran dan buah-buahan yang lain yang telah disiapkan.
Begitu seterusnya hingga seluruh Sayur dan buah-buahan yang disediakan telah ditimbang semuanya.

Selanjutnya acara "Gentayad" atau Berbagi-bagi.Di sini semua Sayur dan buah yang telah ditimbang di bagi-bagikan
Kepada para Tetua dan para undangan yang hadir pada saat itu. Maka selesailah acara Betimbang. dan biasanya setelah
itu akan dirangkai dengan acara lainnya seperti perkawinan dan masak indong.

Masak Indong/Naik Ayun

Masak Indong atau Naik Ayun adalah suatu tradisi dari masyarakat Kaum Suku Tidung, untuk anak bayi yang baru lahir
dan belum pernah di ayun. Pada acara ini dilakukan pembacaan do'a dan sholawat oleh Imam, dan selanjutnya Bayi yang di gendong
oleh orangtuanya memasuki arena acara yang diiringi Tetabuhan Hadrah dan disenandungkannya lagu-lagu Sholawat,
Kemudian dilakukanlah acara Gunting Abuk / Gunting Rambut, dimana pengguntingan Rambut pertama sang bayi dilakukan oleh sang Imam.
Acara Gunting Abuk berakhir yang ditandai dengan berakhirnya Tetabuhan Hadrah.
Selanjutnya Sang bayi di naikkan kedalam Ayunan yang telah dihias sedemikian rupa.

0 Comments:

 
Template by : uniQue template  |  Modified by : Takapana Blog